“Jangan melaut jika takut ombak. Jangan mendaki jika takut terjatuh.” Sebuah peribahasa sederhana, namun mengandung samudra hikmah. Kalimat itu mengawali tausiyah penuh makna yang disampaikan Prof. Dr. KH. Achmad Muhlis, M.A. dalam kegiatan Pembinaan Umum Tenaga Pendidik dan Kependidikan bagi seluruh lembaga dan unit di bawah naungan Yayasan Pendidikan Pondok Pesantren Matsaratul Huda (YP3M), yang diselenggarakan di Aula Utama Pondok Pesantren Matsaratul Huda, Kamis, 24 Juli 2026.
Di tengah derasnya arus perubahan zaman, pembinaan ini seakan menjadi panggilan ruhani bagi para pendidik agar kembali menata niat, meluruskan arah pengabdian, serta menyadari bahwa tugas mendidik bukan sekadar profesi, melainkan amanah yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Rabbul ‘Alamin.
Dalam pemaparannya, Prof. Achmad Muhlis menegaskan bahwa santri yang unggul tidak lahir secara tiba-tiba. Keunggulan mereka merupakan buah dari tangan-tangan yang ikhlas mendidik, hati-hati yang sabar membimbing, dan jiwa-jiwa yang menjadikan pengabdian sebagai jalan menuju ridha Allah. Oleh sebab itu, kualitas santri sesungguhnya bertumpu pada kualitas guru dan pengelolanya.
Beliau mengingatkan agar para pendidik tidak mudah terjebak dalam budaya menyalahkan orang lain. Dengan sebuah perumpamaan yang menggugah, beliau berkata,
“Jangan sampai orang buta mencela, orang bisu mencaci.”
Ungkapan tersebut bukan untuk merendahkan siapa pun, melainkan mengajak setiap insan pendidikan agar lebih banyak bermuhasabah daripada sibuk mencari kekurangan orang lain. Sebab, memperbaiki diri jauh lebih mulia daripada mempertontonkan kelemahan sesama.

Lebih jauh, beliau mengingatkan bahwa guru dan pengelola lembaga pendidikan memikul amanah sosial sekaligus amanah ilahiah. Amanah itu bukan sekadar titipan dari yayasan ataupun masyarakat, melainkan titipan Allah SWT. Karena itu, setiap kebijakan, setiap keputusan, bahkan setiap langkah pengabdian harus berpijak pada petunjuk Al-Qur’an.
“Apabila Al-Qur’an telah menjadi pijakan, maka ketika ada sesuatu yang bertentangan dengannya, yang dilanggar bukanlah perintah atasan, melainkan aturan Allah SWT. Selama Al-Qur’an menjadi kompas kehidupan, tidak ada ruang bagi intervensi yang menyimpangkan kebenaran.”
Pesan tersebut menjadi penegasan bahwa integritas seorang pendidik tidak dibangun oleh pengawasan manusia, tetapi oleh kesadaran bahwa Allah senantiasa mengawasi setiap amal.
Beliau kemudian mengajak seluruh peserta merenungkan hakikat ketenangan hidup. Menurutnya, ketenteraman bukanlah milik mereka yang bergelimang harta, melainkan milik mereka yang memandang segala nikmat sebagai amanah.
“Ketenangan bukan karena banyaknya uang, tetapi karena semua yang dimiliki dipahami sebagai titipan Allah.”
Maka bekerja dengan sungguh-sungguh bukanlah bentuk pengabdian kepada pengasuh, kepala lembaga, ataupun manusia lainnya. Semua itu hanyalah wasilah. Adapun tujuan akhirnya adalah ibadah kepada Allah SWT.
Di sinilah letak kemuliaan seorang pendidik. Ia mengajar bukan demi tepuk tangan manusia, bukan pula demi penilaian atasan, tetapi karena meyakini bahwa setiap huruf ilmu yang diajarkan akan menjadi saksi di hadapan Allah kelak.
Dalam pembinaan tersebut, Prof. Achmad Muhlis juga menekankan dua pilar utama kepemimpinan pendidikan.
Pertama, didiklah santri dengan kelembutan dan kasih sayang, sebab mereka adalah amanah Allah SWT. Rasulullah SAW telah mengajarkan bahwa Allah mencintai orang-orang yang penyayang kepada sesama. Semangat rahmah inilah yang harus mewarnai setiap proses pendidikan, sehingga ketegasan tidak kehilangan kelembutan, dan disiplin tidak memadamkan kasih sayang.
Kedua, bangun kepemimpinan profetik melalui keteladanan. Seorang guru sejatinya adalah pemimpin. Sebelum mengajak orang lain menuju kebaikan, ia harus terlebih dahulu mampu memimpin dirinya sendiri. Sebab, nasihat yang paling membekas bukanlah yang paling indah diucapkan, melainkan yang lebih dahulu dipraktikkan.
Beliau juga menegaskan bahwa integritas diri diukur dari sejauh mana seseorang tunduk kepada perintah Allah SWT. Ketika orientasi kerja hanya berhenti pada target-target duniawi, maka keberkahan akan sulit menghampiri. Namun ketika setiap langkah diniatkan sebagai ibadah, maka lelah berubah menjadi pahala, pengabdian menjelma kemuliaan, dan pekerjaan menjadi jalan mendekat kepada Allah.

Pembinaan ini bukan sekadar forum penyampaian materi, tetapi menjadi majelis penyadaran bahwa pendidikan pesantren akan tetap kokoh selama para pendidiknya menjaga keikhlasan, amanah, dan keteladanan. Sebab, bangunan pesantren tidak hanya ditegakkan oleh bata dan semen, melainkan oleh hati-hati yang ikhlas mengabdi dan jiwa-jiwa yang senantiasa terpaut kepada Allah SWT.
Semoga ruh pengabdian yang diteguhkan dalam majelis ini terus mengalir menjadi cahaya bagi seluruh keluarga besar Yayasan Pendidikan Pondok Pesantren Matsaratul Huda. Karena dari guru yang lurus niatnya akan lahir santri yang lurus akhlaknya; dan dari pendidik yang menjaga amanah, akan tumbuh generasi yang kelak menjaga agama, bangsa, dan peradaban. [oleh S. Ats]






