Lompat ke konten

Modal jualan pentol (cilok), nenek 85 thn berangkat haji tahun ini dengan nabung 10rb-an selama 65 thn lebih

Di sudut Kota Pasuruan, di bawah terik matahari yang menyengat dan dinginnya angin malam, seorang perempuan renta bernama Nenek Mislicha (85) telah menuliskan sebuah kisah yang membuat kita tertunduk malu. Bukan tentang warisan harta yang melimpah, melainkan tentang cinta yang luar biasa kepada Sang Pencipta.

Selama lebih dari setengah abad, tangan Nenek Mislicha tak pernah lelah mengaduk adonan, membulatkannya menjadi butiran-butiran pentol (cilok) kecil, dan menjajakannya kepada setiap orang yang lewat. Siapa sangka, di balik setiap butir pentol (cilok) seharga recehan itu, terselip doa yang lebih besar dari samudera.

images (1) (1)

Menabung Recehan, Membeli Tiket Surga Bagi Nenek Mislicha, setiap lembar uang dua ribu atau lima ribu rupiah bukan sekadar alat penyambung hidup. Dengan tangan yang mulai bergetar karena usia, ia menyisihkan Rp10.000 hingga Rp15.000 setiap harinya ke dalam celengan sederhana. Ia tidak menabung untuk kemewahan dunia, ia sedang mencicil “tiket” untuk bertamu ke rumah Allah.

“Jika Allah sudah memanggil, tidak ada yang tidak mungkin,” mungkin itulah kalimat yang selalu ia bisikkan dalam hati setiap kali memasukkan uang ke celengannya. Selama puluhan tahun ia bersabar, hingga akhirnya pada tahun 2015, tabungan dari hasil keringat berjualan pentol (cilok) itu cukup untuk mendaftarkan namanya di antrean haji.

Kesabaran yang Membuahkan Hasil Tahun 2026 menjadi tahun yang paling mengharukan bagi hidupnya. Setelah menunggu 11 tahun lamanya, di usianya yang ke-85, Nenek Mislicha akhirnya melangkah menuju pesawat yang akan membawanya ke Tanah Suci. Tubuhnya mungkin sudah tak sekuat dulu, namun semangatnya jauh melampaui mereka yang muda.

Keberangkatannya bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan bukti nyata bahwa Allah tidak memanggil mereka yang mampu, tetapi Allah memampukan mereka yang mau dan tulus mencintai-Nya.

Penutup (Inti Artikel)

Kisah Nenek Mislicha mengajarkan kita sebuah rahasia besar:

“Baitullah itu tidak sejauh ribuan kilometer, ia sedekat niat di dalam hati. Sebab di hadapan Allah, bukan besarnya nominal yang dihitung, melainkan besarnya ketulusan dan istiqomah dalam setiap langkah kecil yang kita ambil.”

Disarikan dari kompas.com